Breaking

Saturday, May 9, 2020

Sekilas Tentang Nuzulul Qur'an

SekilasTentang Nuzulul Qur'an
Ilustrasi By Faiz Shihab Tim (Tim Media)

Ramadhan merupakan bulan yang lebih dari sekedar istimewa karena memang di khususkan untuk umat Rasulullah. Ada berapa keunggulan yang ada dalam bulan tersebut, yang paling utama adalah pelipatan pahala tidak dibarengi dengan pelitan pencatatan dosa. Hal teristimewa lainnya bahwa pada bulan ini diturunkannya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia meraih kebahagiaan dunia dan akhirat (disampaikan oleh KH. Samhari dalam sebuah pengajian).

Meskipun terdapat perbedaan pendapat kapan tepatnya peristiwa di turunkannya Al-Qur’an. Satu hal yang pasti bahwa penurunnya adalah pada bulan Ramadlan ini. Pendapat pertama menyebutkan bahwa peristiwa turunnya Al-Qur’an pada malam 17 Ramadhan dengan berpegang pada 

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Menurut para ulama, yang dimaksud dengan “Yaumul Furqān” adalah waktu bertemunya dua pasukan, yaitu pasukan kaum muslimin dan kafir quraisy di Badar, atau biasa kita sebut dengan perang badar. Imam At-Thabari misalnya mengutip pendapat Al-Hasan bin Ali terkait maksud dari yaumul taqāl jamʽān.

قال الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنه: كانت ليلة "الفرقان يوم التقى الجمعان"، لسبع عشرة من شهر رمضان. 

Artinya, “Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA berkata, ‘Yang dimaksud dengan malam ‘al-furqan yaumul taqāl Jamʽān’ adalah tanggal 17 bulan Ramadhan,’” (Lihat Muhammad bin Jarīr At-Thabāri, Jāmiʽul Bayān fi Ta’wīlil Quran, [Beirut, Muassasatur Risalah: 2000], juz XIII, halaman 562). 

Pendapat ini juga diiyakan oleh Ibnu Katsir yang mengutip pendapat Al-Waqidi bahwa awal permulaan wahyu adalah tanggal 17 Ramadhan.

وروى الواقدي بسنده عن أبي جعفر الباقر أنه قال: كان ابتداء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم 

Artinya, “Diriwayatkan oleh Al-Waqidi dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Jafar Al-Baqir bahwa ia berkata, ‘Permulaan wahyu sampai kepada Rasulullah SAW pada hari Senin tanggal 17 Ramadhan.’ Diriwayatkan juga pada tanggal 24 Ramadhan,” (Lihat Ismail bin Umar bin Katsir, Al-Bidāyah wan Nihāyah, [Beirut, Maktabah Al-Maarif: tanpa catatan tahun], juz III, halaman VI).

Pendapat lainnya menyebutkan bahwa peristiwa Nuzulul Qur’an bertepatan dengan lailatul qodar dengan mengindikasikan waktu pada malam lilikuran bulan Ramadhan. 

Peringatan tentang hari tersebut lazim di Indonesia dilaksanakan pada malam 17 Bulan Ramadhan. Meskipun terkadang ada juga yang melaksanakan peringatan pada siang hari. Namun itu, hanya berlaku disebagian tempat. Umumnya kegiatan tersebut di malam hari.

Untuk di Kabupaten Garut sendiri peringatan ini biasanya dilaksanakan pada malam 17 Ramadhan. Pada malam tersebut hampir semua masjid yang menyelenggarakan kegiatan tarawih menginformasikan perihal aktifitas peringatan Nuzulul Qur’an. Demikian pula pondok-pondok pesantren yang ada, baik pesantren NU maupun non-NU. 

Tidak begitu banyak perbedaan kegiatan peringatan Nuzulul Qur’an baik di Kabupaten Garut maupun di tempat lain di Indonesia. Masyarakat biasa mengisinya dengan kegiatan I’tikaf, tumpengan, pengajian, istighotsah, tahlil, khataman Al-Qur’an, dan sebagainya. Satu yang menjadi karakteristik masyarakat Indonesia adalah tidak ada perayaan tanpa ada makanan. Maka di Garut sendiri pada malam tersebut dalam perayaan kita akan menemukan panganan khas yang disajikan. Mulai dari Leupeut, Dupi, dan sebagainya sebagai bagian pelengkap perayaan peringatan peristiwa penting tersebut. Begitulah wajah dari pengimplementasian Islam Nusantara yang mana lekat dan erat hubungannya antara perayaan kegiatan keagamaan dengan budaya setempat yang menjadi tempat hidup masyarakat. 

Sumber : 

https://islam.nu.or.id/post/read/10119/perbedaan-nuzulul-quran-dan-lailatul-qadar

https://islam.nu.or.id/post/read/53301/tentang-nuzulul-qurrsquoan

No comments:

Post a Comment